DAUR HIDROLOGI
Hidrosfer adalah lapisan air yang ada di permukaan bumi. Kata hidrosfer
berasal dari kata hidros yang berarti air dan sphere yang berarti
lapisan. Hidrosfer merupakan salah satu unsur geosfer yang terdiri
atas air dalam berbagai wujud. Air bisa berwujud padat, cair, maupun gas.
Setiap air di bumi mengalami fase tersebut dalam siklus hidrologi. Dalam
kehidupan, air mempunyai fungsi yang sangat penting. Air dibutuhkan untuk
mandi, mencuci, memasak, menyirami, dan sebagainya
2.1. Daur Hidrologi
Jumlah air di Bumi adalah tetap. Perubahan yang dialami
air di bumi hanya terjadi pada sifat, bentuk, dan persebarannya. Air akan
selalu mengalami perputaran dan perubahan bentuk selama siklus hidrologi
berlangsung. Air mengalami gerakan dan perubahan wujud secara berkelanjutan.
Perubahan ini meliputi wujud cair, gas, dan padat. Air di alam dapat berupa air
tanah, air permukaan, dan awan. Air-air tersebut mengalami perubahan wujud
melalui siklus hidrologi. Adanya terik matahari pada siang hari menyebabkan air
di permukaan Bumi mengalami evaporasi (penguapan) maupun transpirasi menjadi
uap air. Uap air akan naik hingga mengalami pengembunan (kondensasi) membentuk
awan. Akibat pendinginan terus-menerus, butir-butir air di awan bertambah besar
hingga akhirnya jatuh menjadi hujan (presipitasi). Selanjutnya, air hujan ini
akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi dan perkolasi) atau mengalir menjadi
air permukaan (run off). Baik aliran air bawah tanah maupun air permukaan
keduanya menuju ke tubuh air di permukaan Bumi (laut, danau, dan waduk). Inilah
gambaran mengenai siklus hidrologi.
Jadi siklus hidrologi adalah lingkaran peredaran air di
bumi yang mempunyai jumlah tetap dan senantiasa bergerak. Siklus hidrologi
adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sirkulasi atau peredaran air
secara umum.
Siklus hidrologi terjadi karena proses-proses yang
mengikuti gejala-gejala meteorologi dan klimatologi sebagai berikut :
a.
Evaporasi, yaitu
proses penguapan dari benda-benda mati yang merupakan proses perubahan dari wujud
air menjadi gas.
b.
Transpirasi, yaitu
proses penguapan yang dilakukan oleh tumbuh-tumbuhan melalui permukaan daun.
c.
Evapotranspirasi,
yaitu proses penggabungan antara evaporasi dan transpirasi.
d.
Kondensasi, yaitu
perubahan dari uap air rnenjadi titik-titik air (pengembunan) akibat terjadinya
penurunan salju.
e.
Infiltrasi, yaitu
proses pembesaran atau pergerakan air ke dalam tanah melalui pori-pori tanah.
Siklus
hidrologi dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Siklus
air pendek (siklus kecil)
Karena terjadi pemanasan oleh sinar matahari, air di
laut/lautan menguap, membubung di udara. Di
udara uap air mengalami penurunan suhu karena perbedaan ketinggian (setiap naik
100 meter suhu udara turun 0,5°C). Dengan demikian semakin ke atas suhu udara
semakin rendah, sehingga terjadi proses kondensasi (pengembunan). Uap air
berubah menjadi butir-butir air terkumpul menjadi awan atau mendung dan
akhirnya jatuh ke permukaan laut/lautan sebagai hujan.

Gambar 1. Siklus air kecil (Tim MGMP DKI hlm. 135).
2.
Siklus air sedang (siklus
menengah)
Uap air yang berasal dari laut/lautan ditiup angin bergerak sampai di atas daratan bergabung dengan uap air yang berasal dari sungai, danau, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya. Setelah mencapai ketinggian tertentu uap air berkondensasi membentuk butir-butir air terkumpul menjadi awan dan jatuh di atas daratan sebagai hujan.
Uap air yang berasal dari laut/lautan ditiup angin bergerak sampai di atas daratan bergabung dengan uap air yang berasal dari sungai, danau, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya. Setelah mencapai ketinggian tertentu uap air berkondensasi membentuk butir-butir air terkumpul menjadi awan dan jatuh di atas daratan sebagai hujan.

Gambar 2. Siklus air sedang (Tim MGMP DKI hlm. 135).
Air hujan yang jatuh di daratan mengalir
kembali ke laut melalui sungai, permukaan tanah dan melalui resapan di dalam
tanah.
3. Siklus air besar (siklus panjang)
Uap air yang berasal dari laut/lautan setelah
sampai di atas daratan karena dibawa angin bergabung dengan uap air yang
berasal dari danau, sungai, rawa, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya. Uap
yang telah bergabung tersebut tidak saja berkondensasi bahkan membeku,
membentuk awan yang terdiri dari kristal-kristal es.
Gambar
3. Siklus air besar (Tim MGMP DKI hlm. 136).
Kristal-kriatal es turun ke daratan
sebagai salju, salju mencair dan sebagai
gletser kemudian akhirnya kembali lagi ke laut.
Holtzman memberikan gambaran siklus air
secara keseluruhan sebagai berikut: akibat pemanasan oleh sinar matahari air
yang ada di laut, sungai, danau, rawa dan benda-benda lainnya menguap membubung
ke angkasa. Setelah mencapai ketinggian tertentu (karena pengaruh suhu) uap air
berubah menjadi awan atau titik-titik air. Awan turun ke permukaan bumi berupa
hujan. Sebagian air hujan turun di permukaan laut dan sebagian lainnya turun di
atas daratan. Air hujan yang turun di darat sebagian disimpan menjadi air tanah
dan sebagian lagi mengalir kembali ke laut melalui sungai.
Hidrosfer di muka bumi selanjutnya akan di
kelompokkan menjadi 2, yaitu perairan darat dan perairan laut.
2.1.1.
Perairan di daratan
Perairan di daratan tergolong sebagai perairan tawar, yaitu semua perairan yang melintasi daratan. Air di
daratan meliputi air tanah dan air permukaan.
Air tanah adalah
air yang terdapat di dalam tanah. Air tanah berasal dari salju, hujan atau bentuk curahan lain yang meresap ke dalam tanah dan
tertampung pada lapisan kedap air.
Air freatis adalah air tanah yang terletak di atas lapisan kedap air
tidak jauh dari permukaan tanah. Air freatis sangat dipengaruhi oleh resapan
air di sekelilingnya. Pada musim kemarau jumlah air freatis berkurang. Sebaliknya pada musim hujan
jumlah air freatis akan bertambah. Air freatis dapat diambil melalui atau mata
air.
c) Sumur Air
tanah dalam
Air artesis adalah air tanah yang terletak jauh di dalam tanah, di
antara dua lapisan kedap air. Lapisan diantara dua lapisan kedap air tersebut disebut
lapisan akuifer. Lapisan tersebut banyak menampung air. Jika lapisan kedap air
retak, secara alami air akan keluar ke permukaan. Air yang memancar ke
permukaan disebut mata air artesis. Air artesis dapat dapat diperoleh melalui pengeboran. Sumur pengeborannya disebut sumur artesis.
Air permukaan adalah wadah air yang terdapat di permukaan bumi.
Bentuk air permukaan meliputi sungai, danau, rawa.
Sungai adalah air hujan atau mata air yang mengalir secara alami melalui suatu lembah atau
diantara dua tepian dengan batas jelas, menuju tempat lebih rendah (laut, danau atau sungai lain).
Sungai terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian hulu, bagian tengah dan
bagian hilir.
·
Bagian hulu
sungai terletak di daerah yang relatif tinggi sehingga air dapat mengalir
turun.
·
Bagian
tengah sungai terletak pada daerah yang lebih landai.
2)
Jenis-jenis
sungai
Jenis-jenis sungai dibagi menjadi 5, yaitu sungai hujan, sungai gletser, sungai campuran, sungai permanen dan sungai periodik.
·
Sungai
hujan adalah sungai yang berasal dari hujan.
·
Sungai
campuran adalah sungai yang airnya berasal dari hujan dan salju yang mencair.
·
Sungai
permanen adalah sungai yang airnya relatif tetap.
·
Sungai
periodik adalah sungai dengan volume air tidak tetap.
Sungai merupakan jalan air
alami. Laluan melalui sungai merupakan cara biasa air hujan
yang turun di daratan untuk mengalir ke laut
atau takungan air yang besar seperti danau.
Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk
membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran
dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai di mana
sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai.
Kebanyakan pinggir sungai di Jepang dipakai untuk tempat
bermain, rekreasi dan pesta akhir pekan. Kemanfaatan terbesar sebuah sungai
adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan
air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai. Di Indonesia saat ini terdapat 5.950 daerah aliran sungai
(DAS).
b) Danau
Adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air
bisa tawar ataupun asin yang seluruh cekungan tersebut dikelilingi oleh
daratan. Kebanyakan danau adalah air tawar dan juga banyak berada di belahan bumi utara pada
ketinggian yang lebih atas. Sebuah danau periglasial adalah danau yang di salah satunya terbentuk lapisan es, "ice cap"
atau gletser, es ini menutupi aliran air keluar danau.
Istilah danau juga digunakan untuk menggambarkan fenomena seperti Danau Eyre, di mana danau ini kering di banyak waktu dan hanya terisi
pada saat musim hujan. Banyak danau adalah buatan dan sengaja dibangun untuk
penyediaan tenaga listrik-hidro, rekreasi (berenang, selancar angin, dll), persediaan air, dll. Finlandia dikenal sebagai "Tanah Seribu Danau" dan Minnesota dikenal sebagai "Tanah Sepuluh Ribu Danau". Great Lakes di Amerika Utara juga memiliki asal dari zaman es. Sekitar 60% danau dunia terletak di Kanada;
ini dikarenakan sistem pengaliran kacau yang mendominasi negara ini. Di bulan
ada wilayah gelap berbasal, mirip mare bulan tetapi lebih kecil, yang disebut lacus (dari
bahasa Latin yang berarti "danau"). Mereka
diperkirakan oleh para astronom sebagai danau.
Berdasarkan
proses terjadinya, danau dibedakan :
3.
Danau tektovulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat percampuran aktivitas tektonisme dan vulkanisme
4.
Danau bendungan alami yaitu danau yang terbentuk akibat lembah
sungai terbendung oleh aliran lava
saat erupsi terjadi
6.
Danau glasial yaitu danau yang terbentuk akibat mencairnya
es / keringnya daerah es yang kemudian terisi air
7. Danau buatan yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas manusia
c)
Rawa
Adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman
akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis.
Definisi yang lain dari rawa adalah semua macam tanah berlumpur yang terbuat secara alami, atau buatan manusia dengan
mencampurkan air tawar dan air laut, secara permanen atau sementara, termasuk
daerah laut yang dalam airnya kurang dari 6 m pada saat air surut yakni rawa dan tanah pasang surut.
Rawa-rawa , yang memiliki penuh nutrisi, adalah gudang harta ekologis untuk
kehidupan berbagai macam makhluk hidup. Rawa-rawa juga disebut "pembersih
alamiah", karena rawa-rawa itu berfungsi untuk mencegah polusi atau pencemaran lingkungan
alam. Dengan alasan itu, rawa-rawa memiliki nilai tinggi dalam segi ekonomi, budaya,
lingkungan hidup dan lain-lain, sehingga lingkungan rawa harus tetap dijaga
kelestariannya.
2.2. Laut dan Samudra
Laut adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Air di laut
merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti
garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak
terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.
Adapun dimensi samudera merupakan 70,8% permukaan bumi dengan luas mencapai
361.254.000 km2. Menurut definisi internasional terdapat tiga
samudera, yaitu Samudera Atlantik (181,34 x 106 km2), Samudera
Pasifik (74,12 x 106 km2) dan Samudrea India (106,57 x 106 km2).
Lebar samudera berkisar antara 1500 km hingga 13.000 km dengan kedalaman antara
3 hingga 4 km.
1) Letak Laut
Berdasarkan
letak pulau-pulau atau daratan, laut dapat dibedakan
menjadi sebagai berikut :
menjadi sebagai berikut :
a.
Laut tepi, letaknya
di tepi benua dan terhalang dari lautan oleh pulau-pulau atau jazirah.
Contohnya Laut Cina Selatan, letaknya terhalang oleh Kepulauan Indonesia dan
Filipina dari Samudra Pasifik; Laut Jepang, letaknya terhalang oleh Kepulauan
Jepang dan Samudra Pasifik; serta Laut Utara, letaknya terhalang oleh Kepulauan
Inggris dan Samudra Atlantik.
b.
Laut pertengahan,
letaknya di antara dua benua dan mempunyai gugusan kepulauan serta kedalaman
laut yang dalam. Contohnya Laut Banda, Laut Sulawesi, dan laut-laut yang berada
di antara Asia, Australia, serta Kepulauan Indonesia, laut yang berada di
antara Benua Eropa dan Afrika di Kepulauan Yunani.
c.
Laut pedalaman,
letaknya hampir seluruhnya dikelilingi oleh daratan. Contohnya Laut Hitam, Laut
Baltik, Laut Kaspia, dan Laut Merah.
2) Zona Laut
Laut mempunyai kedalaman dasar yang berbeda-beda.
Dasar laut membentuk lereng mulai garis pantai ke arah tengah laut. Kedalaman
laut makin bertambah dengan makin jauh jaraknya dari daratan pantai.
Berdasarkan zona kedalamannya, laut dapat dibedakan menjadi beberapa zona
sebagai berikut :
a.
Zona litoral
atau zona pasang surut, merupakan wilayah laut yang berada di antara pasang
naik dan pasang surut air laut. Zona ini sering disebut dengan daerah pantai.
b. Zona neritik, merupakan wilayah laut yang berada
di antara garis pantai kedalaman 200 m. Pada zona ini sinar matahari masih
dapat menembus ke dalam. Ikan dan sejenisnya serta tumbuhan laut banyak
dijumpai pada zona ini.
c. Zona batial, merupakan wilayah laut yang berada
pada kedalaman 200–2.500 m. Pada zona ini sinar matahari sudah tidak mampu
menembus ke dalam sehingga organisme laut tidak sebanyak pada zona neritik.
Zona batial biasanya merupakan lereng benua (continental slope) yang curam dan
berbatasan dengan landas benua (continental shelf).
d. Zona abisal, merupakan wilayah laut yang mempunyai
kedalaman lebih dari 2.500 m. Suhu pada wilayah ini sangat dingin. Hewan laut
yang dapat hidup hanya terbatas dan tumbuhan laut sudah tidak ada.
3) Batas Landas Kontinen, Laut Teritorial, dan Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE)
a.
Batas Landas
Kontinen
Pada tahun 1973 pemerintah Indonesia mengeluarkan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia. Berdasarkan
isi perjanjian di atas, wilayah laut Indonesia dapat dibedakan menjadi empat jenis,
yaitu laut teritorial (laut wilayah), laut Nusantara, andas kontinen, dan Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE).
b.
Laut Teritorial
Pemerintah Indonesia telah
mengeluarkan Deklarasi Juanda pada tanggal 13 Desember 1957. Deklarasi ini
menetapkan bahwa batas perairan laut wilayah Indonesia adalah 12 mil laut
diukur dari garis pantai masing-masing pulau sampai titik terluar. Deklarasi
ini juga melandasi lahirnya Wawasan Nusantara.
1)
Laut
Teritorial (Laut Wilayah)
Merupakan laut yang lebarnya 12 mil laut yang
diukur sejajar dengan garis dasar atau pangkal. Garis dasar atau pangkal adalah
garis yang dibentuk pada saat air laut surut pada pulau-pulau terluar dalam
wilayah Indonesia. Negara Indonesia mempunyai kedaulatan penuh atas wilayah
laut ini.
2)
Laut
Nusantara
Merupakan laut yang berada di antara pulau-pulau
yang dibatasi oleh garis dasar/pangkal pulau yang bersangkutan. Kedaulatan atas
wilayah laut ini berada sepenuhnya di tangan negara Indonesia.
3)
Landas
Kontinen
Merupakan bagian dasar laut paling tepi atau dekat
kontinen/ benua dengan kedalaman laut sampai 200 m. Wilayah landas kontinen
Indonesia berada di luar laut teritorial Indonesia. Pada wilayah ini eksplorasi
dan eksploitasi laut masih dapat dimungkinkan
c.
Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE)
Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) diumumkan pemerintah
Indonesia pada tanggal 21 Maret 1980. Pengumuman ini berpengaruh terhadap
wilayah Indonesia dan negara-negara lain. Wilayah laut Indonesia bertambah luas
mencapai dua kali dari sebelumnya. Pihak asing dilarang mengambil kekayaan laut
di wilayah ZEE. Penentuan batas wilayah laut dengan negara tetangga dilakukan
dengan kesepakatan bersama.
ZEE merupakan wilayah laut yang lebarnya 200 mil
laut. Indonesia mempunyai kepentingan atas ZEE antara lain sebagai berikut :
1.
Hak berdaulat
atas ZEE untuk eksplorasi, eksploitasi, pengelolaan, dan konservasi sumber daya
alam.
2.
Hak untuk
melakukan penelitian, perlindungan, dan pelestarian lingkungan laut.
3.
Pelayaran
internasional bebas melalui wilayah ini. Negara lain bebas melakukan pemasangan
berbagai sarana perhubungan laut.
2.3. Sebaran Temperatur Vertikal
Temperatur merupakan ukuran energi gerakan molekul
dan dinotasikan dengan T. Satuan internasional untuk temperatur adalah oK
(Kelvin) atau oC (Celcius), dimana :
t [oC] = T [oK] – 273,15
Perubahan tekanan, evaporasi, hujan, masukan air
sungai serta pembekuan dan pencairan es merupakan faktor-faktor yang
mempengaruhi distribusi temperatur dan salinitas permukaan air laut. Perubahan
temperatur dan salinitas dapat menaikkan atau menurunkan densitas permukaan air
laut. Jika air di permukaan masuk ke perairan yang lebih dalam, hal tersebut
akan menimbulkan hubungan antara temperatur dan salinitas yang dapat
dimanfaatkan untuk mengukur perubahan laut dalam. Temperatur, salinitas dan
tekanan digunakan untuk mengkalkulasi densitas.
Distribusi temperatur di permukaan laut cenderung
membentuk zonasi, bervariasi secara horisontal sesuai garis lintang dan secara
vertikal sesuai kedalaman. Temperatur juga penting dalam mengatur proses
kehidupan dan penyebaran organisme. Seperti kita ketahui bersama bahwa
organisme laut bersifat poikilotermik/ektotermik, artinya temperatur tubuhnya
dipengaruhi oleh temperatur masa air di sekitarnya.
Secara umum terdapat empat zona biogeografik
berdasarkan temperatur, yaitu : kutub, tropik, beriklim sedang-panas dan
beriklim sedang-dingin Temperatur di laut mengalami penurunan drastis pada
kedalaman 50-300 m (zona termoklin). Lapisan termoklin terjadi sepanjang tahun
di perairan tropik, di daerah beriklim sedang terjadi pada musim panas dan di
kutub tidak ada. Temperatur juga berpengaruh terhadap kerapatan air laut. Air
laut yang hangat kerapatannya lebih rendah dari air yang dingin pada salinitas
yang sama.
Temperatur suatu perairan dipengaruhi oleh radiasi
matahari, posisi matahari, letak geografis, musim, kondisi awan serta proses
interaksi antara air dan udara. Rata-rata radiasi matahari yang mencapai bumi
dan menembus atmosfir hanya sekitar 70%. Sebesar 30% lainnya dikembalikan ke
angkasa oleh awan dan partikel debu. Dari sekitar 70% yang ada, sebanyak
17% diserap atmosfer, 23% sampai ke atmosfer sebagai difusi cahaya
siang hari dan 30% sampai ke permukaan bumi sebagai sinar matahari langsung.
2.3.1.
Distribusi Temperatur Permukaan
Intensitas insolasi (radiasi matahari
yang benar-benar sampai ke permukaan bumi) terutama tergantung pada sudut
dimana sinar matahari mengenai permukaan. Distribusi temperatur di permukaan
bumi bervariasi terhadap lintang dan musim karena sumbu bumi mengikuti orbitnya
mengitari matahari.
Temperatur permukaan laut tergantung pada insolasi
dan penentuan jumlah panas yang kembali diradiasikan ke atmosfer. Temperatur
rata-rata laut adalah 3,8OC, namun pada daerah ekuator temperatur
rata-rata lebih rendah dari 4,9OC. Pada lapisan perairan dimana
terjadi perubahan suhu secara drastis pada kedalaman perairan, dengan
temperatur 8-15OC disebut sebagai lapisan termoklin. Pada
daerah tropis, lapisan termoklin terjadi pada kedalaman 150-400 meter,
sedangkan pada daerah subtropis, lapisan ini terjadi pada kedalaman 400 – 1000
meter. Panas juga ditransfer di sepanjang permukaan laut melalui konduksi dan
konveksi serta pengaruh penguapan. Jika permukaan laut lebih panas dari udara
di atasnya maka panas dapat ditransfer dari laut ke udara. Panas yang hilang
dari laut ke udara di atasnya terjadi melalui proses konduksi. Namun demikian,
kehilangan panas tersebut tidak penting untuk total panas lautan dan
pengaruhnya dapat diabaikan kecuali untuk percampuran konvektif oleh angin yang
memindahkan udara hangat dari permukaan laut. Penguapan (transfer air ke
atmosfer sebagai uap air) yaitui mekanisme utama dimana laut kehilangan
panasnya sekitar beberapa magnitude dibandingkan yang hilang melalui konduksi
dan percampuran konvektif. Laju kehilangan panas dalam proses penguapan
merupakan perkalian antara panas laten penguapan dan laju penguapan.
2.3.2.
Distribusi Temperatur Terhadap Kedalaman
Secara umum, temperatur di laut akan berkurang
dengan bertambahnya kedalaman. Pada kedalaman 200-300 meter dan 1000 meter,
temperatur akan turun dengan cepat. Daerah ini dikenal sebagai termoklin
permanen. Pada lapisan 1000 meter kebawah menuju dasar laut tidak
mengalami variasi musiman dan temperatur turun perlahan antara 0oC
dan 3oC.
Di atas termoklin pemanen, distribusi temperatur
terhadap kedalaman menunjukkan variasi musiman terutama di lintang tengah. Pada
musim dingin, ketika temperatur rendah dan kondisi di pemukaan kasar sehingga
lapisan permukaan tercampur akan melebar ke termoklin permanen. Pada musim
panas, temperatur permukaan naik, kondisinya kuang kasar dan termoklin musiman
sering terbentuk di atas termoklin pemanen.
Termoklin musiman terbentuk pada musim semi dan
maksimum (laju perubahan tempeatur terbesar/gradien temperatur paling tajam)
terjadi pada musim panas. Angin musim dingin yang dingin dan kuat meningkatkan
kedalaman termoklin musiman dengan cepat dan menurunkan gradien tempeatur,
selanjutnya lapisan campuran akan mencapai ketebalan penuh sebesar 200-300
meter. Di lintang rendah (ekuator) tidak terdapat musim dingin, sehingga termoklin
musiman menjadi pemanen dan bergabung dengan termoklin pemanen pada kedalaman
100-150 meter. Di lintang tinggi yang lebih besar dari 60o, tidak
ada termoklin pemanen.
2.4. Salinitas
Definisi sederhana dari salinitas adalah jumlah
total material terlarut (gram) dalam satu kilogram air laut. Sedangkan definisi
lebih lengkap dari salinitas adalah jumlah total material padat (gram) yang
dilarutkan dalam satu kilogram air laut setelah karbonat diubah menjadi oksida,
bromine dan iodine dikembalikan oleh chlorin dan semua bahan organik telah
dioksidasi secara menyeluruh. Salinitas adalah proporsi jumlah chlorin dalam
air laut, didefinisikan dengan :
S = 0,03 + 1,805 Cl
Konsentrasi rata-rata garam terlarut di laut
adalah 3,5% terhadap berat atau dengan bagian per
seribu (35 ppt). Tabel menyajikan daftar 11 ion
utama yang membentuk 99,9% unsur terlarut air laut.
Konsentrasi rata-rata ion utama dalam air laut dalam o/oo adalah sebagai
berikut:
Total ion negative (anion) = 21,861 :
- Klorida (Cl-) = 18,980
- Sulfat (SO42-) = 2,649
- Bikarbonat (HCO3-) = 0,140
- Bromida (Br-) = 0,065
- Borat (H2BO3-) = 0,026
- Florida (F-) = 0,001
Total ion negative (anion) = 21,861 :
- Klorida (Cl-) = 18,980
- Sulfat (SO42-) = 2,649
- Bikarbonat (HCO3-) = 0,140
- Bromida (Br-) = 0,065
- Borat (H2BO3-) = 0,026
- Florida (F-) = 0,001
Total ion
positif (kation) = 12,621 :
- Sodium (Na+) = 10,556
- Magnesium (Mg2+) = 1,272
- Kalsium (Ca2+) = 0,400
- Potasium (K+) = 0,380
- Strontium (Sr2+) = 0,013
- Sodium (Na+) = 10,556
- Magnesium (Mg2+) = 1,272
- Kalsium (Ca2+) = 0,400
- Potasium (K+) = 0,380
- Strontium (Sr2+) = 0,013
Jumlah total salinitas = 34,48
Salinitas air berdasarkan
persentase garam terlarut
|
|||
< 0.05 %
|
0.05 - 3 %
|
3 - 5 %
|
> 5 %
|
Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran
air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar.
Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%.
Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau
atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia
disebut brine.
Air laut secara alami merupakan air saline
dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan
beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya.
Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.
Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas,
dengan didasarkan bahwa halida-halida—terutama klorida—adalah anion yang paling
banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalam oseanografi,
halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam “bagian perseribu” (parts
per thousand , ppt) atau permil (‰), kira-kira sama dengan jumlah gram
garam untuk setiap liter larutan. Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas
dinyatakan sebagai ‰ dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik
sampel terhadap "Copenhagen water", air laut buatan yang
digunakan sebagai standar air laut dunia. Pada 1978, oseanografer
meredifinisikan salinitas dalam Practical Salinity Units (psu, Unit
Salinitas Praktis): rasio konduktivitas sampel air laut terhadap larutan KCL
standar. Rasio tidak memiliki unit, sehingga tidak bisa dinyatakan bahwa 35 psu
sama dengan 35 gram garam per liter larutan.
Salinitas bervariasi tergantung pada keseimbangan
antara penguapan dan presipitasi serta percampuran antara air permukaan dan air
kedalaman. Secara umum, perubahan salinitas tidak mempengaruhi proporsi relatif
ion-ion utama. Konsentrasi ion-ion berubah dalam proporsi yang sama yaitu rasio
ioniknya tetap konstan. Meski demikian, untuk beberapa lingkungan laut seperti
laut-laut tertutup, cekungan, daerah yang luas serta dalam sediment laut,
terdapat kondisi dimana rasio-rasio ion menyimpang jauh dari normal.
Faktor utama yang mempengaruhi perubahan salinitas, yaitu :
– Evaporasi (penguapan) air laut
– Hujan
– Mencair/membekunya es
– Aliran sungai menuju ke laut
Para Ahli Oseanografi membagi pola salinitas dalam arah vertikal menjadi
empat lapisan :
– Well-mixed
surface zone, dengan ketebalan 50 - 100 m (salinitas seragam).
– Halocline, zona dimana salinitas berubah
dengan cepat sesuai dengan bertambahnya kedalaman.
– Zona di bawah Halocline sampai ke dasar laut,
dengan salinitas yang relatif homogen.
– Zona Berkala (Occasional Zone), pada
kedalaman 600 - 1000 m, dimana terdapat
nilai salinitas minimum.
Densitas
Densitas air laut merupakan jumlah massa air laut per satu satuan
volume. Densitas merupakan fungsi langsung dari kedalaman laut, serta
dipengaruhi juga oleh salinitas,temperatur, dan tekanan. Pada umumnya
nilai densitas (berkisar antara 1,02 - 1,07 gr/cm3) akan bertambah sesuai
dengan bertambahnya salinitas dan tekanan serta berkurangnya temperatur.
Perubahan densitas dapat disebabkan oleh
proses-proses :
– Evaporasi
di permukaan laut.
– Massa air pada kedalaman < 100 m sangat
dipengaruhi oleh angin dan gelombang, sehingga besarnya densitas relatif
homogen.
– Di bawah lapisan ini terjadi perubahan
temperatur yang cukup besar(Thermocline) dan juga salinitas (Halocline),
sehingga menghasilkan pola perubahan densitas yang cukup besar (Pynocline).
– Di bawah Pynocline hingga ke dasar laut
mempunyai densitas yang lebih padat.
Stabilitas air laut
dipengaruhi oleh perbedaan densitasnya, yang disebut dengan Sirkulasi Densitas
atau Thermohaline.
Dalam kegiatan pemeruman
(pengukuran kedalaman dengan alat Echosounder),salinitas dan temperatur yang
diperoleh dari pengukuran pada interval kedalaman tertentu sangat berguna untuk
menentukan :
– Cepat rambat gelombang
akustik.
–
Menentukan pembelokan arah perambatan gelombang akustik (refraksi).
2.5. Sirkulasi Termohalin
Sirkulasi
yang bukan dibangkitkan oleh angin disebut sebagai sirkulasi termohalin (thermohaline
circulation) dan sirkulasi akibat pasang surut laut. Sirkulasi termohalin
dibangkitkan oleh adanya perbedaan densitas air laut. Dua faktor yang
menentukan densitas air laut adalah kadar garam dan temperatur, kadar garam
yang besar serta temperatur yang rendah akan menyebabkan densitas semakin besar
begitu pula sebaliknya. Istilah
termohalin sendiri berasal dari dua kata yaitu thermo yang berarti
temperatur dan haline yang berarti salinitas. Penamaan ini diberikan
karena densitas air laut sangat dipengaruhi oleh temperatur dan salinitas.
Sementara itu, sirkulasi laut akibat pasang surut laut disebabkan oleh adanya
perbedaan distribusi tinggi muka laut akibat adanya interaksi bumi, bulan dan
matahari.
Sirkulasi
ini merupakan proses konveksi, dimana air dingin dan berdensitas besar
terbentuk di daerah kutub (Utara dan Selatan), tenggelam, dan mengalir
pelan-pelan ke arah ekuator.
Di
Atlantik Utara, terbentuk North Atlantic Deep Water, sedangkan di wilayah
Antartika terbentuk Antartic Bottom Water dan Antartic Intermediate. Sirkulasi
Thermohaline juga dipengaruhi oleh topografi dasar laut.
2.6.
Spiral Ekman
Ekman transportasi,
dinamai Vagn Walfrid Ekman, adalah proses alami oleh angin yang
menyebabkan pergerakan air di dekat permukaan laut. Each
layer of water in the ocean drags with it the layer beneath. Setiap lapisan air
di laut menyeret dengan lapisan di bawahnya. Thus the movement of each layer of water is affected by
the movement of the layer above (or below in the case of a frictional bottom
boundary layer). Dengan demikian pergerakan setiap lapisan air dipengaruhi oleh
pergerakan lapisan atas (atau bawah dalam kasus gesekan lapisan batas bawah).
If the friction between layers is uniform with
depth, the motion of the water is described by the Ekman spiral . [
1 ] In Ekman transport the force of the wind is balanced by the Coriolis effect , which acts perpendicular to the motion of
the water. Jika gesekan antara lapisan adalah homogen dengan kedalaman, gerakan
air digambarkan oleh Ekman spiral. [1]
Setiap lapisan air di laut menyeret dengan lapisan di bawahnya. Thus
the movement of each layer of water is affected by the movement of the layer
above (or below in the case of a frictional bottom boundary layer). Dengan
demikian pergerakan setiap lapisan air dipengaruhi oleh pergerakan lapisan atas
(atau bawah dalam kasus gesekan lapisan batas bawah). If the friction between layers is uniform with depth,
the motion of the water is described by the Ekman spiral . [
1 ] In Ekman transport the force of the wind is balanced by the Coriolis effect , which acts perpendicular to the motion of
the water. Jika gesekan antara lapisan adalah homogen dengan kedalaman, gerakan
air digambarkan oleh Ekman spiral. [1]
Dengan demikian pergerakan setiap lapisan air dipengaruhi oleh pergerakan
lapisan atas (atau bawah dalam kasus gesekan lapisan batas bawah). If the
friction between layers is uniform with depth, the motion of the water is
described by the Ekman spiral . [
1 ] In Ekman transport the force of the wind is balanced by the Coriolis effect , which acts perpendicular to the motion of
the water. Jika gesekan antara lapisan adalah
homogen dengan kedalaman, gerakan air digambarkan oleh Ekman spiral.
Dalam
transpor Ekman kekuatan angin diimbangi oleh efek Coriolis, gaya Coriolis
mempengaruhi aliran massa air, dimana gaya ini akan membelokan arah angin dari
arah yang lurus. Gaya ini timbul
sebagai akibat dari perputaran bumi pada porosnya. Gaya Coriolis ini yang
membelokan arus dibagian bumi utara kekanan dan dibagian bumi selatan kearah
kiri. Pada saat kecepatan arus berkurang, maka tingkat perubahan arus yang disebabkan gaya Coriolis
akan meningkat.
Hasilnya akan dihasilkan sedikit
pembelokan dari arah arus yang relatif cepat dilapisan permukaan dan arah
pembelokanya menjadi lebih besar pada aliran arus yang kecepatanya makin lambat
dan mempunyai kedalaman makin bertambah besar. Akibatnya akan timbul suatu
aliran arus dimana makin dalam suatu perairan maka arus yang terjadi pada
lapisan-lapisan perairan akan dibelokan arahnya. Hubungan ini dikenal sebagai
Spiral Ekman,
Gambar 4. Spiral Ekman
Diagram di atas menunjukkan kekuatan terkait dengan Ekman
spiral. The force from above is in red (beginning
with the wind blowing over the water surface), the Coriolis force (at right
angles to the force from above) is in dark yellow, and the net resultant water
movement is in pink, which then becomes the force from above for the layer
below it, accounting for the gradual clockwise spiral motion as you move down.
Gaya dari atas adalah merah (yang diawali dengan angin bertiup di atas
permukaan air), maka gaya Coriolis (pada sudut kanan gaya dari atas) berada
dalam kuning tua, dan gerakan air bersih yang dihasilkan dalam merah muda, yang
kemudian menjadi gaya dari atas untuk lapisan di bawahnya, akuntansi untuk
bertahap gerakan spiral searah jarum jam saat Anda bergerak ke bawah.
Spiral Ekman klasik telah diamati di
bawah lautan es, tetapi tidak ditemukan di sebagian besar kondisi laut terbuka.
This is due both to the fact that the turbulent
mixing in the surface layer of the ocean has a strong diurnal cycle and to the
fact that surface waves can destabilize the Ekman spiral. Hal ini
disebabkan baik untuk fakta bahwa pencampuran bergolak di lapisan permukaan
laut memiliki siklus diurnal yang kuat dan fakta bahwa permukaan gelombang
dapat menggoyang Ekman spiral.Ekman spirals are,
however, found in the atmosphere.Surface winds in the Northern Hemisphere tend
to blow to the left of winds aloft. Permukaan angin di belahan bumi
utara cenderung pukulan angin di sebelah kiri atas.
2.7. Gelombang Laut
Selain membangkitkan arus, tiupan angin
di permukaan laut dapat juga membangkitkan gelombang (Wind-generated
wave).Gelombang terbentuk oleh adanya transfer energi dari udara ke massa air.
Di laut dalam :
– Air yang bergerak dalam arah
horisontal jumlahnya kecil sekali
– Air bergerak dalam arah vertikal (ke
atas dan ke bawah)
Terdapat perbedaan antara gelombang dan gerakan partikel air di
permukaan (berbentuk lingkaran dengan diameter yang merupakan fungsi dari
kedalaman dan kecepatan).
Sedangkan tinggi dan periode gelombang
merupakan fungsi dari :
– Kecepatan
dan durasi angin, serta jarak vertikal antara air dan angin
–
Kedalaman (khususnya di laut dangkal dan danau)
Gambar 5 .Gangguan
permukaan laut
Dalam gambar
ditunjukkan berbagai parameter gelombang :
1.
Tinggi
gelombang (H), yaitu jarak vertikal antara punggung (elevasi maksimum) dan
palung (elevasi minimum)
2.
Elevasi
(
), yaitu jarak vertikal sesaat permukaan dari sebuah titik
dari suatu paras (permukaan) tak terganggu gelombang.
3.
Amplitudo
(a) gangguan gelombang, yaitu setengah tinggi gelombang atau a=1/2H.
4.
Panjang
gelombang (L), yaitu jarak horizontal antara punggung-punggung (crests) atau palung-palung (troughs) yang terdekat dalam arah
penjalaran gelombang.
5.
Bilangan
gelombang (K). Hubungan bilangan (jumlah) gelombang dan panjang gelombang
adalah:
k = 
6.
Periode
gelombang (T), yaitu jangka (interval) waktu anatar kejadian palung-palung
(atau punggung-punggung) berurutan pada posisi tetap. Kebalikan dari periode
gelombang disebut frekuensi, yaitu ukuran jumlah punggung (atau palung) yang
terjadi pada posisi tetap dalam satuan waktu. Jadi, frekuensi gelombang dapat
ditulis:
f = 
dan frekuensi sudut didefinisikan sebagai:
Gerakan
permukaan gelombang dapat dikelompokan sebagai berikut:
a. Gerak
osilasi,
yaitu gerak gelombang akibat molekul air bergerak melingkar. Gerak osilasi
biasanya terjadi di laut lepas, yaitu pada bagian laut dalam. Adanya gelombang
dibangkitkan oleh kecepatan angin, lamanya angin bertiup, luas daerah yang
ditiup angin (fetch), dan kedalaman laut. Gelombang ini memiliki tinggi dan
lembah gelombang. Puncak gelombang akan pecah di dekat pantai yang disebut
breaker atau gelora.
b. Gerak translasi, yaitu gelombang osilasi yang telah
pecah lalu seperti memburu garis pantai, bergerak searah dengan gerak gelombang
tanpa diimbangi gerakan mundur. Gelombang ini tidak memiliki puncak dan lembah
yang kemucian dikenal dengan istilah surf. Gelombang ini dimanfaatkan untuk
olah raga surfing.
c. Gerak swash dan
back swash
berbentuk gelombang telah menyentuh garis pantai. Kedatangan gelombang disebut
swash, sedangkan ketika kembali disebut back swash.

Gambar 6. Bagian-bagian
dari gelombang
Keterangan :
a. Gelombang osilasi
b. Gelora (surf atau breaker)
c.
Gelombang translasi
d.
Swash
e.
Back swash
f.
Arus dasar
Ditinjau
dari penyebab terjadinya, gelombang air laut dapat dibedakan menjadi :
1 Gelombang
karena Angin (Wind Waves)
- Gelombang Pasang Surut (Tides Waves)
- Gelombang karena Gempa
- Gelombang karena eksplosit gunung api
1. Gelombang
karena Angin (Wind Waves)
Permukaan laut dipengaruhi angin lokal. Maikn kuat angin, makin tinggi
gelombang terhadap sebuah titik. Gelombang yang lebih tinggi dikaitkan dengan
panjang gelombang yang lebih panjang dan periode yang lebih lama. Bila angin
reda (atau berhenti), maka fluktuasi permukaan segera terjadi dalam bentuk swell. Swell adalah gelombang akibat pengaruh angin yang terbentuknya di
luar daerah angin. Gelombang (karena) angin dibangkitkan oleh angin yang
berhembus di atas permukaan laut. Penyebaran horizontal permukaan air dimana
angin berhembus sebelum mencapai titik pengamatan disebut fetch. Dapat dikatakan bahwa fetch
adalah panjang daerah pengaruh angin.
![]() |
Gambar 7. Gelombang karena angin
2. Gelombang Pasang Surut (Tides Waves)
Gelombang pasang
surut (pasut) adalah gelombang yang ditimbulkan oleh gaya tarik menarik antara
bumi dengan planet-planet lain terutama dengan bulan dan matahari. Gelombang
ini mempunyai periode sekitar 12,4 jam dan 24 jam. Gelombang pasut juga mudah
diprediksi dan diukur, baik besar dan waktu terjadinya. Sedangkan gelombang
tsunami dan gelombang badai tidak dapat diprediksi kapan terjadinya.
Berdasarkan faktor pembangkitnya, pasang surut dapat dibagi dalam dua kategori
yaitu: pasang purnama (pasang besar, spring tide) dan pasang perbani
(pasang kecil, neap tide).
Pasang Purnama
Gambar 8 . Pasang purnama (saat bulan purnama)
Pada setiap sekitar
tanggal 1 dan 15 (saat bulan mati dan bulan purnama) posisi bulan-bumi-matahari
berada pada satu garis lurus (Gambar
8), sehingga gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi saling memperkuat.
Dalam keadaan ini terjadi pasang purnama dimana tinggi pasang sangat besar
dibanding pada hari-hari yang lain.
Pasang
Perbani
![]() |
Gambar 9 . Pasang perbani
Sedangkan pada sekitar tanggal 7 dan 21, dimana bulan dan matahari membentuk
sudut siku-siku terhadap bumi (Gambar 9) maka gaya tarik bulan dan matahari
terhadap bumi saling mengurangi. Dalam keadaan ini terjadi pasang perbani,
dimana tinggi pasang yang terjadi lebih kecil dibanding dengan hari-hari yang
lain.
3. Gelombang Karena Gempa
Jika ada gempa bumi yang lokasinya di laut
dapat menimbulkan gelombang besar yang disebut gelombang seisma atau tsunami.
Kata “Tsunami” merupakan istilah dari bahasa Jepang yang menyatakan suatu
gelombang laut akibat adanya pergerakan atau pergeseran di bumi di dasar laut.
Gempa ini diikuti oleh perubahan permukaan laut yang mengakibatkan timbulnya
penjalaran gelombang air laut secara serentak tersebar ke seluruh penjuru mata
angin. Sedangkan pengertian gempa adalah pergeseran lapisan tanah dibawah
permukaan bumi. Ketika terjadi pergeseran tersebut timbul getaran yang disebut
gelombang seismik dari pusat gempa menjalar ke segala penjuru.Tinggi gelombang
Tsunami disumbernya kurang dari 1 meter. Tapi pada saat menghempas ke pantai
tinggi gelombang ini bisa lebih dari 5 meter. Tsunami yang terjadi di Indonesia
berkisar antara 1,5 - 4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami
maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4-24 meter dan jangkauan
gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.
Tanda-tanda akan datangnya tsunami di
daerah pinggir pantai adalah :
1. Air laut yang surut secara tiba-tiba.
2. Bau asin yang sangat menyengat.
3. Dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras.
1. Air laut yang surut secara tiba-tiba.
2. Bau asin yang sangat menyengat.
3. Dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras.
Tsunami terjadi jika :
• Gempa besar dengan kekuatan gempa > 6.3 SR
• Lokasi pusat gempa di laut
• Kedalaman dangkal < 40 Km
• Terjadi deformasi vertikal dasar laut
• Gempa besar dengan kekuatan gempa > 6.3 SR
• Lokasi pusat gempa di laut
• Kedalaman dangkal < 40 Km
• Terjadi deformasi vertikal dasar laut
Gambar 10. Mekanisme
Tsunami
4.
Gelombang Karena Eksplosit Gunung Api
Gelombang laut karena
eksplosit gunung berapi terjadi jika ada gunung berapi yang letaknya di laut
meletus, maka dapat menimbulkan gelombang laut yang besar.
BAB III
PENUTUP
Hidrosfer
berasal hydros yang berarti air, dan dari kata spheira yang berarti bulatan
atau bola. Jadi arti hidrosfer adalah bola atau bulatan air yang menyelubungi
bumi. Penyebaran air di muka bumi sebagian besar di lautan, yakni kurang lebih
97% dan sisanya di daratan 2,8%. Hampir tiga per empat bumi ditutupi oleh air
dengan jumlah yang tetap dan hanya mengalami perubahan bentuk. Hal ini terjadi
karena air mengalami siklus yang disebut daur hidrologi atau siklus hidrologi.
Terdapat 3 macam siklus air:
- siklus pendek (siklus kecil)
- siklus sedang ( siklus menengah)
- siklus panjang (siklus besar)
Dalam
kehidupan sehari-hari air dalam jumlah besar kita jumpai di laut, sungai,
danau, rawa, dalam bentuk gletser, air tanah, dan air hujan. Hidrosfer di muka bumi selanjutnya di kelompokkan menjadi
2, yaitu perairan darat dan perairan laut.
Temperatur suatu perairan dipengaruhi oleh radiasi
matahari, posisi matahari, letak geografis, musim, kondisi awan serta proses
interaksi antara air dan udara. Temperatur permukaan laut tergantung pada insolasi (radiasi matahari yang benar-benar sampai ke permukaan
bumi)
dan penentuan jumlah panas yang kembali diradiasikan ke
atmosfer. Secara
umum, temperatur di laut akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Pada
kedalaman 200-300 meter dan 1000 meter, temperatur akan turun dengan cepat.
Air
laut mengandung kadar garam yang cukup tinggi. Kandungan kadar garam ini biasa disebut salinitas. Definisi sederhana dari salinitas adalah jumlah total
material terlarut (gram) dalam satu kilogram air laut. Sedangkan definisi lebih
lengkap dari salinitas adalah jumlah total material padat (gram) yang
dilarutkan dalam satu kilogram air laut setelah karbonat diubah menjadi oksida,
bromine dan iodine dikembalikan oleh chlorin dan semua bahan organik telah
dioksidasi secara menyeluruh.
Temperatur dan kadar garam merupakan dua faktor yang
menentukan densitas air, kadar garam yang besar serta temperatur yang rendah
akan menyebabkan densitas semakin besar begitu pula sebaliknya. Sirkulasi termohalin dibangkitkan oleh adanya
perbedaan densitas air laut.
Terjadinya arus di
lautan disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal seperti perbedaan densitas air laut, gradien tekanan
mendatar dan gesekan lapisan air. Sedangkan faktor eksternal seperti gaya tarik
matahari dan bulan yang dipengaruhi oleh tahanan dasar laut dan gaya coriolis,
perbedaan tekanan udara, gaya gravitasi, gaya tektonik dan angin ( Gross,
1990). Gaya Coriolis mempengaruhi aliran massa air, dimana gaya ini akan
membelokan arah angin dari arah yang lurus. Gaya ini timbul sebagai akibat dari perputaran
bumi pada porosnya. Gaya Coriolis ini yang membelokan arus dibagian bumi utara
kekanan dan dibagian bumi selatan kearah kiri. Pada saat kecepatan arus
berkurang, maka tingkat perubahan arus yang disebabkan gaya Coriolis akan
meningkat. Hasilnya akan dihasilkan sedikit pembelokan dari arah arus yang
relaif cepat dilapisan permukaan dan arah pembelokanya menjadi lebih besar pada
aliran arus yang kecepatanya makin lambat dan mempunyai kedalaman makin
bertambah besar. Akibatnya akan timbul suatu aliran arus dimana makin dalam
suatu perairan maka arus yang terjadi pada lapisan-lapisan perairan akan
dibelokan arahnya. Hubungan ini dikenal sebagai Spiral Ekman.
Selain itu, terdapat gerakan
air laut yang paling umum dan mudah kita amati yang disebut gelombang laut.
Helmholts menerangkan prinsip dasar terjadinya gelombang laut sebagai berikut :
“Jika ada dua massa benda yang berbeda kerapatannya (densitasnya) bergesekan
satu sama lain, maka pada bidang gerakannya akan terbentuk gelombang”. Adapun
faktor yang menyebabkan terjadinya gelombang adalah angin dan aktivitas geologi
dari kerak bumi.
DAFTAR
PUSTAKA
Bayong Tjasyono. 2006. Ilmu Kebumian dan Antariksa. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Febriyuhendra. http://febriyuhendra.wordpress.com/2009/09/12/oseanografi/.
http://en.wikipedia.org/wiki/ekman_spiral

