Temuan yang membawa jendela bagi fisika baru...
Fisikawan-fisikawan yang berasal dari
11 institusi dari Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan Jerman yang tergabung
dalam kolaborasi Muon (g - 2) di Laboratorium Nasional Brookhaven, New York,
pada bulan Februari 2001 lalu mengumumkan temuan baru yang sangat boleh jadi
akan menjadi tonggak baru dalam perkembangan fisika partikel. Lee Robets, dari
universitas Boston, salah satu pimpinan kolaborasi tersebut mengatakan:
"Hasil ini dapat membuka suatu eksplorasi dunia yang sama sekali baru bagi
fisikawan-fisikawan yang tertarik pada teori-teori baru, seperti misalnya
supersimetri yang memperluas Model Standar. Model Standar adalah teori yang
memformulasikan partikel-partikel elementer penyusun materi dengan menyertakan
3 interaksi fundamental, yaitu kuat, lemah, dan elektromagnetik. Teori ini telah
bertahan kokoh tak tergoyahkan menghadapi berbagai uji laboratorium dengan
ketelitian yang sangat tinggi selama lebih dari 30 tahun. Penemuan
partikel-partikel yang diramalakan eksistensinya oleh teori Model Standar, di
antaranya top quark pada Mei 1995 dan tau neutrino pada Juli 2000, keduanya di
Fermilab, menambah panjang daftar kesuksesan teori Model Standar. Penemuan di
Brookhaven ini - suatu pengukuran presisi terhadap anomali momen magnetik muon
- menunjukkan penyimpangan yang signifikan terhadap harga yang diramalkan oleh
teori Model Standar. Hal ini dapat menjadi suatu petunjuk akan adanya teori
fisika lain sehingga sekarang permasalahan di luar asumsi-asumsi teori Model
Standar terbuka bagi eksplorasi eksperimen.
Setiap partikel elementer seperti
electron dan muon mempunyai besaran fisis intrinsik yang salah satunya adalah
rasio momen magnetik (g) dengan nilai tertentu yang berkaitan dengan spin
partikel. Harga anomali momen magnetik atau (g - 2) suatu partikel
menggambarkan pengaruh gaya-gaya kuat, lemah, dan elektromagnetik pada spin
partikel yang bersangkutan. Dengan menggunakan teori Model Standar fisikawan
teori dapat melakukan perhitungan dengan ketelitian yang sangat tinggi,
bagaimana spin dari sebuah muon akan terpengaruh jika muon tersebut melintasi
suatu medan magnet. Dengan teknologi saat ini g dapat diukur dengan ketepatan
yang sangat tinggi Hasil pengukuran anomali momen magnetik pada muon di
berbagai laboratorium terkemuka di dunia sebelumnya selalu cocok dengan ramalan
teori Model Standar dan merupakan suatu sukses besar teori Model Standar.
Ilmuwan-ilmuwan di Brookhaven yang
melakukan pengukuran anomali momen magnetik pada muon telah mengumpulkan data
sejak tahun 1997. Sampai seminggu terakhir sebelum pengumuman temuan tersebut
mereka belum mengetahui apakah hasil pengukuran yang mereka lakukan akan sesuai
dengan ramalan teori Model Standar. Gary Brunce, manajer proyek eksperimen
tersebut, menyatakan "Sekarang kami 99% yakin bahwa perhitungan teori
Model Standar tidak dapat menggambarkan data yang kami miliki."
Para ilmuwan di Brookhaven dengan
menggunakan suatu sumber muon dengan intensitas tinggi, magnet superkonduktor
terbesar di dunia, dan detector-detektor yang sangat tepat dan teliti telah
mengukur anomali momen magnetik muon dengan hasil yang secara signifikan lebih
tinggi daripada ramalan teori Model Standar. Terhadap perbedaan yang cukup
signifikan dalam temuan ini, Vernon Hughes - pimpinan kolaborasi Muon (g - 2)
yang lain - menyatakan, "Ada tiga kemungkinan untuk menginterpretasikan
hasil ini. Pertama, fisika baru di luar teori Model Standar, seperti misalnya
supersimetri, sedang terlihat. Kedua, ada probabilitas statistik kecil bahwa
pengukuran eksperimental dan harga teoretik Standar Model masih konsisten.
Ketiga, meskipun kecil kemungkinannya, sejarah ilmu pengetahuan telah
mengajarkan kepada kita bahwa selalu ada kemungkinan kesalahan dalam eksperimen
dan teori."
Banyak fisikawan partikel percaya
bahwa penemuan supersimetri, teori yang meramalkan adanya pasangan supersimetri
untuk semua partikel yang dikenal dalam teori Model Standar, hanyalah tinggal
menunggu waktu. Partikel-partikel supersimetri diyakini terbentuk pada saat
awal terciptanya alam semesta (peristiwa big bang) dan karena ketidak
stabilannya telah meluruh menjadi partikel-partikel lain yang kita kenal
sekarang ini. Dengan kata
lain partikel supersimetri sudah tidak dapat kita jumpai di alam. Namun demikian, dengan teknologi
masa kini, melalui tumbukan yang sangat dahsyat di akselerator partikel,
partikel-partikel yang sudah tidak ditemui di alam tersebut dapat
direkonstruksi. Metode ini telah berhasil digunakan dalam proses penemuan
partikel top quark di Fermilab.
Di Fermilab, penulis tergabung
dalam kolaborasi D-Zero yang beranggotakan sekitar 450 fisikawan dari berbagai
institusi dari 10 negara telah melakukan pencarian langsung terhadap
partikel-partikel supersimetri sejak tahun 1994. Metode yang kami lakukan
adalah dengan cara merekonstruksi partikel supersimetri melalui tumbukan.
Sejauh ini belum diperoleh titik terang tentang keberadaan partikel-partikel
tersebut. Temuan baru di Brookhaven, melalui pendekatan yang berbeda, telah
mengisyaratkan adanya fisika baru di luar teori Model Standar. Salah satu
interpretasi hasil temuan ini adalah terbukanya jendela yang menghubungkan
fisika yang kenal ke dunia yang belum tereksplorasi sebelumnya, salah satu di
antaranya adalah eksistensi supersimetri.
Apakah fisika baru di luar teori
Model Standar tersebut konsisten dengan teori supersimetri masih belum dapat
kita jawab saat ini. Tampaknya kita masih harus bersabar menunggu sampai
terkumpul data yang lebih banyak dan bukti yang lebih meyakinkan sebelum kita
dapat menjawab lebih pasti, fisika baru apa yang bertanggung jawab pada temuan
baru yang termati di Brookhaven. Namun dengan kemajuan teknologi saat ini
sangat boleh jadi waktu itu tidak akan lama lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar